Headlines News :
Home » » Punk Myanmar Kecam Kekerasan Umat Budha Melalui Musik

Punk Myanmar Kecam Kekerasan Umat Budha Melalui Musik

Written By 4News Times on Monday, 5 August 2013 | 23:58





4newstimes.com - Kelompok musik Punk bukan hanya soal rambut mohawk dengan cat merah muda, jaket kulit atau tato tengkorak dibadan, namun di Myanmar mereka berani memecah keheningan diamnya warga Myanmar terhadap kekerasan yang dialami Muslim.

Sekelompok band Punk Myanmar berani membuka suara mereka untuk  menentang biksu Budha yang menghasut kekerasan terhadap umat Islam disaat warga myanmar lainnya diam atas apa yang dialami Muslim Myanmar itu.
  
"Jika mereka benar-benar biksu, aku akan tenang, tetapi mereka tidak," Ungkap Kyaw Kyaw, vokalis grup Punk Rebel Riot, oleh karenanya ia bersuara lewat musik mengecam kemunafikan para biksu dan gerakan anti-Muslimnya yang dikenal sebagai "969."

''Mereka anggap diri mereka nasionalis, namun nyatanya fasis ! Tidak seorang pun ingin mendengarnya, tapi itu benar. " Ujar Kyaw dikutip dari laman Todays Zaman, Selasa (06/8/2013).
  
Biksu radikal berada di garis depan dalam kampanye berdarah terhadap Muslim, dan hanya sedikit di bangsa ini yang mayoritas beragama Budha dari 60 juta orang yang bersedia untuk berbicara melawan mereka. Bagi banyak orang, menjadi Buddha merupakan bagian penting dari menjadi Burma, dan Biksu adalah anggota masyarakat yang paling terhormat, tidak tercela. Mereka menganggap Muslim sebagai "Orang Luar"  dan ancaman bagi budaya dan tradisi Myanmar.

Grup Punk lainnya mengatakan bahwa Umat Budha harus melihat kembali ajaran Budha sesungguhnya.

"Semua yang saya dapat katakan adalah, orang harus melihat pada ajaran Buddha dan bertanya pada diri sendiri, apakah ini ajaran Budha?" Kata Ye Ngwe Soe, vokalis dari grup "No U Turn", grup punk rock paling populer di negara itu. 

Dia bahkan menulis sebuah lagu yang berjudul "Perang Manusia", lagu ini dibuat setelah melihat kekerasan yang dialami Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine beberapa waktu lalu yang mulai menjalar ke daerah lain.

"Ketika saya pergi ke beberapa daerah perkotaan, saya mendengar mereka berbicara tentang gerakan "969" dan membenci Muslim dengan melakukan kekerasan. Seharusnya tidak seperti ini. "ungkap Ye Ngwe Soe lebih lanjut,
  
Menurut pengamat cara terbaik untuk melawan pemikiran kekerasan orang-orang seperti Biksu Wirathu itu adalah dengan memberi ruang bagi warga myanmar lain yang anti kekerasan dan lebih mengedepankan sikap toleran.
  
Namun para Biksu dan aktivis sipil yang anti kekerasan tidak cukup berani mengeluarkan suara dan pendapatnya ketika terjadi dialog lintas agama terkait permasalahan ini.
 
"Saya yakin banyak dari mereka pikir ini sesuatu yang sudah diluar batas kemanusiaan, tetapi mereka kebanyakan tidak berani mengatakan hal tersebut secara terbuka," kata Bertil Lintner, seorang jurnalis Swedia yang telah menulis beberapa buku tentang Myanmar.  

"Jika mereka melakukannya mereka akan diserang dengan dianggap tidak nasionalis, musuh agama, dan dituduh berteman dengan Muslim. ... Ini adalah situasi yang sangat sulit. " ungkap Bertil.

Arker Kyaw, seorang seniman grafiti street art yang memiliki teman Muslim yang sebagiannya adalah musisi dan DJ juga menyatakan keprihatinannya atas kekerasan yang telah didera komunitas Muslim beberapa tahun ini.
 
Lewat video dan musik Arker Kyaw mengumpulkan orang dari berbagai latar belakang agama yang berbeda untuk mengungkapkan solidaritas terhadap rekan muslim mereka.

"Jangan khawatir, setidaknya antara kami, semuanya baik - baik saja." Ungkap remaja berusia 20 tahun ini.
 
Tapi ketika ditanya apakah ia tidak tergoda untuk menjawab provokasi kelompok "969" yang menyebarkan stiker dan tanda-tanda di dinding seluruh Yangon dengan keahliannya sebagai seniman grafiti.

Ia menjawab. "Tidak. Ini sangat rumit. dalam hal ini, saya pikir lebih baik  kita memantau saja,setidaknya saya bisa mempengaruhi orang di sekeliling saya bahwa tindakan gerakan "969" ini tidak manusiawi dan intoleran."[TZM/YL/Islamedia]
Share this post :
 
Support : Creating Website | NT Media | Mas Template
Copyright © 2011. 4Newstimes.com - All Rights Reserved
Published by kontak kami
powered by 4News Times Group