4newstimes.com - Hakikat
Puasa
Ramadhan
adalah madrasah pembangunan karakter. Selama satu bulan jiwa dan raga Muslim dibina
dan ditempa dalam momen pembinaan Ilahi ini. Berbagai ibadah Ramadhan menjadi
sarana pembinaan menuju pribadi Muslim mulia. Sejatinya, berpuasa tidak hanya
untuk menahan lapar dan dahaga, namun menahan dari segala sesuatu yang dilarang
Allah SWT. Perbuatan yang mubah dilakukan di luar Ramadhan seperti makan, minum
dan hubungan intim suami isteri menjadi berbeda hukumnya ketika siang Ramadhan,
bagaimana dengan perbuatan yang memang pada dasarnya tidak boleh dilakukan?
Rasulullah Saw. pernah memberikan gambaran tentang hakikat puasa dalam
sabdanya: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka
Allah SWT tidak berkepentingan ketika ia meninggalkan makan dan minumnya”.
(HR. Bukhari).
Begitulah
Rasul Saw. menetapkan standar penilaian puasa; mengaitkan puasa makan dan minum
dengan perbuatan dan perilaku. Puasa yang baik mampu memberikan pengaruh
positif terhadap prilaku dan moralitas seseorang. Puasa yang baik ketika
seseorang mampu merealisasikan spirit puasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Tidak
sedikit orang yang berpuasa namun belum mampu merealisasikan hakikat puasa yang
sebenarnya. Sehingga puasa dan ibadah Ramadhan tidak memberikan pengaruh
positif secara maksimal terhadap prilaku dan moralitasnya. Dalam hal ini
Rasulullah Saw. mewanti-wanti ibadah Ramadhan yang tidak bisa memberikan
pengaruh positif terhadap pelakunya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Rasulullah Saw. bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa namun hanya
mendapat lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamullail
namun hanya menahan tidurnya”. (HR. Ibnu Majah).
Pembinaan
Ramadhan
Secara
umum pengaruh positif Ramadhan berupa dua hal; pertama, kokohnya kontrol
internal dalam diri Muslim. Kedua, pembiasaan.
Kontrol
internal individu atau biasa disebut dengan keimanan dan ketakwaan adalah modal
dasar bagi proses pembangunan karakter. Kontrol internal ini bisa melahirkan
kekuatan jiwa yang bersifat ekspansif dan defensif sekaligus. Kekuatan
ekspansif mendorongnya untuk melakukan dan menebar kebaikan seluas-luasnya. Dan
kekuatan defensif mencegah dirinya dari perbuatan buruk yang merugikan.
Kontrol
internal dari dalam jiwa memiliki peran yang menentukan eksistensi kesalehan
dirinya. Dengan kontrol ini seorang Muslim diharapkan mampu eksis dalam
kebaikan dan kebenaran. Kontrol internal ini utama. Adapun kontrol eksternal
yang datang dari luar berperan sebagai pendukung. Kontrol internal selama
berlandaskan kepada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT bersifat langgeng,
kapan dan di mana saja. Namun tidak demikian kontrol eksternal, karena ia tidak
luput dari kelengahan dan kekeliruan. Kontrol eksternal bisa dalam bentuk
kontrol sosial, hukum dan seterusnya. Seorang pencuri mungkin takut mencuri
ketika ada polisi, namun polisi tidak selalu ada di mana-mana. Berbeda dengan
kontrol internal individu, ia ada kapan dan di mana saja keberadaan individu
tersebut.
Selama
Ramadhan seorang Muslim dididik agar menjadi pribadi yang bertakwa. Puasa,
sholat wajib dan nawafil, tilawah, sedekah dan sebagainya, semuanya
mengarah kepada tujuan la’allakum tattaquun. Takut kepada Allah SWT.
Puasa
mengajarkan seseorang untuk menahan makan dan minum serta segala yang
membatalkan berdasarkan takwa atau takut kepada Allah SWT., yang berfungsi
sebagai kontrol individu bagi Muslim. Bisa saja tanpa takwa kepada Allah SWT.
seseorang membatalkan puasanya tanpa diketahui orang lain.
Sholat
sebagai sarana komunikasi seorang Muslim kepada Sang Rabb, menjadikan keimanan
bersemai dalam dirinya. Iman kepada Allah SWT. menjadi modal utama bagi Muslim
untuk menumbuhkan kontrol individu dirinya. Sehingga diharapkan sholat yang
dilakukan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Allah SWT.
berfirman: “Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (Al-Ankabuut: 45).
Puasa
dan sedekah bisa melahirkan karakter sosial yang positif; melahirkan rasa
kepedulian terhadap sesama. Rasa lapar dan dahaga bisa membuat seorang mukmin
terdorong meringankan penderitaan sebagian masyarakatnya. Sedekah juga menepis
sifat kikir dan pelit serta melatih seseorang untuk peduli dan mengasihi
sesama. Allah SWT. berfirman: “ Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.
(QS At-Taubah 103).
Selanjutnya,
selama satu bulan seorang Muslim dilatih untuk menjadi pribadi yang bertakwa.
Latihan dan pembiasaan ini diharapkan berdampak mewarnai perilaku dan kondisi
Muslim pada waktu-waktu selain Ramadhan. Seorang Muslim secara total adalah
hamba Allah SWT, tunduk dan patuh kepadaNya baik di dalam maupun di luar
Ramadhan. Bukan hambaNya ketika di Ramadhan saja. Dengan pembiasaan dan latihan
selama sebulan diharapkan nilai-nilai Ramadhan mampu mewarnai sebelas bulan
lainnya.
Saleh
Sosial
Pribadi
yang memiliki kontrol internal yang kokoh dan terbiasa berbuat kebaikan adalah
aset yang sangat berharga bagi masyarakat. Akumulasi individu seperti ini bisa
diharapkan membangun karakter sebuah Bangsa, dan sebuah masyarakat ataupun
Bangsa tidak lain hanyalah kumpulan dari individu-individu.
Pribadi
demikian mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat, tidak menjadi trouble
maker, tetapi sebagai problem solver.
Baik
dalam hubungan sosial masyarakat adalah salah satu capaian yang diharapkan dari
berbagai ibadah mahdhah yang disyariatkan. Ia bisa menjadi indikator
keberhasilan ibadah mahdhah yang dilakukan. Seorang yang baik dalam
ibadah mahdhah akan baik pula secara hubungan sosial, minimal tidak
menjadi trouble maker di masyarakatnya. Namun, jika ada orang yang
senantiasa melakukan ibadah mahdhah tetapi tidak baik secara hubungan
sosial, maka ia perlu meninjau kembali ibadah yang dilakukannya. Sebuah kisah
dan penjelasan Rasulullah Saw. mengisyaratkan hal ini: “Seorang laki-laki
berkata kepada Rasulullah Saw.: Wahai Rasulullah Saw. ada seorang perempuan
yang dikenal sering melakukan sholat, puasa dan sedekah, tetapi dia menyakiti
tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: dia penghuni Neraka.
Kemudian laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah Saw. ada seorang perempuan
dikenal sedikit melakukan sholat, puasa dan bersedekah dengan sedikit susu,
tetapi dia tidak menyekiti tetangganya. Rasulullah Saw. bersabda: dia penghuni Surga”.
(HR. Ahmad).
Problematika
sosial dengan berbagai bentuknya seperti krisis moralitas, krisis identitas,
kriminalistas dan lain sebagainya, merajalela disebabkan diantaranya karena
tidak ada kontrol internal individu dan pembiasaan untuk menghindari perilaku
tidak baik.
Pribadi
yang memiliki kontrol internal individu yang kokoh dan biasa berbuat baik mampu
menebar manfaat bagi sosialnya. Jika sebagai anggota dalam masyarakat, ia
menjaga stabilitas sosialnya, menjalin hubungan baik dengan sesama, dan jauh
dari sikap menzalimi orang lain. Jika sebagai pemimpin, kepemimpinannya akan
membawa manfaat dan kebaikan bagi sosialnya. Wallahu a’lam.
Ditulis Oleh : Ahmad
Yani, Lc, MA.
