Home »
sorot tokoh
» Habib Mundzir Al-Musawwa Sosok Ulama Istiqomah dan Bersahaja
4newstimes.com - Ia merupakan
anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa
dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang
dan dibesarkan di Mekkah. Setelah lulus pendidikan jurnalistik di New York
University, Amerika Serikat, ayahnya kemudian bekerja sebagai seorang wartawan
di harian 'Berita Yudha' yang lalu menjadi Berita buana. Masa kecilnya
dihabiskan di daerah Cipanas, Jawa barat bersama-sama saudara-saudaranya,
Ramzi, Nabiel Al-Musawa, serta Lulu Musawa. Ayahnya meninggal dunia tahun
1996 dan dimakamkan di Cipanas, Jawa Barat.
Setelah ia
menyelesaikan sekolah menengah atas, ia mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di
Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan,
lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta timur. Ia
memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi
Timur,yang di pimpin oleh habib naqib bin muhammad bin syehk abu bakar bin
salim,beliau banyak menimba ilmu di ma'had al khairat dan di sinilah beliau
kenal dengan habib umar bin hafidz yang kemudian diteruskan ke Ma’had
Darul Musthafa di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin
Hafidz bin Syech abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994
untuk mendalami bidang syari'ah selama empat tahun. Di sana ia mendalami ilmu
fiqh, ilmu tafsir Al Qur'an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu
tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.
Awal Mulai Berdakwah
Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun
1998, dan mulai berdakwah dengan mengunjungi rumah-rumah, duduk dan
bercengkerama dengan mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala
permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka
majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, ia terus berdakwah dengan meyebarkan
kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, ia tidak mencampuri
urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah
untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari
penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan
kehidupan yang Nabawi, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang
Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawi, pejabat yang
Nabawi, pedagang yang Nabawi, petani yang Nabawi, betapa indahnya keadaan ummat
apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga
antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan
terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang
hakiki, masing masing dengan kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu
kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian
alam.
Majelis Rasulullah SAW
Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya
yaitu “Majelis Rasulullah SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh
majelis taklim ini tercapai. Sebab ia berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan
mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup. Habib Munzir
juga rutin melakukan takbir akbar di Istiqlal atau Senayan yang sering dihadiri
para pimpinan tertinggi negara Indonesia. Majelisnya mengalami pasang surut,
awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan
surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang ia mendapat cemoohan dari
orang-orang sekitar. Ia bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari
murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di
Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga
sampai enam orang, sudah berjumlah sekitar 30.000 hadirin setiap malam selasa,
Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan
sekitarnya, ia juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum’at bertempat
di jalan Kemiri Cidodol Kebayoran. (Dakwatuna/4NT)