4newstimes.com - Allah SWT
sediakan “bonus” berupa balasan dan ganjaran berlipat di bulan Ramadhan. Jika
saja Kaum Muslimin mengetahui keseluruhan atau hakekat dari ganjaran yang Allah
SWT sediakan, mereka akan berharap Ramadhan sepanjang tahun. Rasulullah saw
bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Ghifari: “Kalau
hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku
pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramdahan”. (HR. Tabrani,
Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).
Jika
diperhatikan bunyi redaksi hadits Rasul saw tersebut di atas menggunakan
kata-kata “kalau” dalam petikan “kalau hamba-hamba Allah SWT
mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan”. Dari sini bisa dipahami hadits
tersebut dengan dua pemahaman, pertama, bahwa hamba-hamba Allah tidak
mengetahui balasan tersebut. Kedua, bahwa hamba-hamba Allah belum mengetahui
hakekat atau keseluruhan balasan tersebut. Namun, pemahaman kedua lebih tepat;
bahwa manusia belum mengetahui (hakekat atau keseluruhan) balasan tersebut,
karena Allah SWT dan Rasul-Nya telah menginformasikan bentuk-bentuk balasan dan
keutamaannya, namun informasi yang disampaikan belum secara keseluruhan dan Kaum
Muslimin belum mengetahui hakekat atau keseluruhan balasan dan keutamaan
Ramadhan.
Bagi Kaum
Muslimin, kira-kira bila ditanya tentang siapkah mereka jika Ramadhan menjadi
sepanjang tahun? Puasa, menahan lapar dan dahaga di siang hari sepanjang tahun,
tidak ada hari Raya Idul Fitri. Siap tidak? Menjawabnya pasti ragu-ragu. Itu
karena -melihat konteks hadits Rasul saw di atas- Kaum Muslimin belum
mengetahui keseluruhan atau hakekat balasan dan keutamaan yang Allah SWT
sediakan di bulan Ramadhan, karena jika mereka mengetahui hal tersebut maka
–sesuai hadits Rasul- pasti mereka berharap sepanjang tahun menjadi Ramadhan.
Keutamaan Shaaim
Tentang
keutamaan orang yang berpuasa, Rasul saw pernah bersabda misalnya dalam hadits
yang diriwayatkan Abu Hurairah ra: “Bau mulut orang yang berpuasa lebih
wangi di sisi Allah SWT ketimbang aroma kasturi”. (HR. Bukhari). Ada juga
yang menyampaikan hadits bahwa “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.
Hadits ini memang hadits dhaif, tetapi secara logika, benar bahwa tidur orang
yang berpuasa adalah ibadah, dalam kondisi berpuasa seseorang berada dalam
ibadah selama ia meninggalkan larangan Allah SWT.
Jika tidurnya
saja bernilai ibadah, bagaimana dengan nilai perbuatan amal kebaikannya? Jika
bau mulutnya mulia di sisi Allah SWT. Bagaimana dengan baca Al-Qur’annya? Zikir
dan ucapan baiknya? Pasti Allah SWT lipatgandakan ganjaran dan keutamaannya.
Keutamaan Bulan
Ramadhan
Cukuplah
kemuliaan Ramadhan ketika para Sahabat Rasulullah saw memohon kepada Allah SWT
untuk disampaikan kepada Ramadhan sejak enam bulan menjelang Ramadhan, dan enam
bulan setelahnya, mereka memohon agar amal mereka selama Ramadhan diterima.
Cukuplah kemuliaan Ramadhan sebagai bulan diturunkan Al-Qur’an, bahkan kitab
suci para Nabi sebelum Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Watsilah bin Asqa’,
bahwa rasulullah saw bersabda: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama
bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramdahan, Injil diturunkan
pada malam ketiga belas Ramadhan dan Al-Furqan (Al-Qur’an) diturunkan pada
malam keduapuluh empat Ramadhan”. (HR. Ahmad).
Ramadhan
adalah bulan yang diberkahi. Rasulullah saw sampaikan dalam sabda beliau yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: “Telah datang kepada kalian Ramadhan
sebagai bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan puasa atas kalian, pintu-pintu
Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, setan dibelenggu, di dalamnya ada
malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya
sungguh ia benar-benar telah terhalang dari segala kebaikan”. (HR. Ahmad,
An-Nasa’i dan Baihaqi).
Berkah
artinya tambah dan tumbuh. Nilainya bisa tambah dan tumbuh. Karena itu, malam
lailatul qadar sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an juga Allah SWT sebut
sebagai malam yang diberkahi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kami
menurunkan Al-Qur’an pada malam yang diberkahi, sesungguhnya kami pemberi
peringatan”. (QS. Ad-Dukhan: 3).
Lailatul
qadar, malam diturunkannya Al-Qur’an disebut sebagai malam yang diberkahi,
karena itu nilainya bertambah menjadi lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana
pahala shalat di Masjid yang diberkahi, Masjidil Haram sebanding dengan seratus
ribu kali lipat shalat di Masjid biasa. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya
rumah Allah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang di Mekah yang
diberkahi”. (QS. Ali Imran:96). Shalat di Masjid Al-Aqsha sebanding dengan
lima ratus kali lipat shalat di Masjid biasa, karena diberkahi. Allah SWT
berfirman: “Maha suci Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
malam hari dari masjidilharam menuju masjid Al-Aqsha yang kami berkahi
sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1).
Cukuplah
sifat Ramadhan sebagai bulan yang diberkahi dalam hadits Rasulullah menjadi
keutamaan tersendiri. Bulan yang bertambah pahala, ganjaran dan keutamaan. Keutamanan
lain? Ramadhan adalah bulan kemenangan bagi Umat Islam, sejarah kemenangan
fenomenal Rasulullah dan para Sahabat, selanjutnya dalam perjuangan Kaum
Muslimin, dan jangan salah, kemerdekaan tanah air Indonesia juga pada bulan
Ramadhan.
Keutamaan
Ibadah dan Kepedulian
Ramadhan
bulan peningkatan ibadah, dan lipat ganda pahala Allah SWT janjikan di bulan
ini. Bulan yang menghimpun ibadah-ibadah utama. Ibadah puasa dan sedekah adalah
dua ibadah yang menghantarkan seorang hamba menuju Surga Allah SWT.
Diriwayatkan dari Ali ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di
Surga ada kamar-kamar yang luarnya bisa terlihat dari dalam, dan dalamnya bisa
terlihat dari luar. Mereka (Sahabat) bertanya: “Untuk siapa itu wahai
Rasulullah? Rasul menjawab: “Untuk siapa yang baik tutur katanya, member makan,
membiasakan puasa dan shalat malam sementara manusia tidur”. (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan Tabrani). Semua
bentuk ibadah dan perbuatan yang disebut dalam hadits ada di bulan Ramadhan.
Seorang mukmin melakukan puasa, qiyam, sedekah dan bertutur baik, karena
orang yang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan dusta dan keji .
Puasa juga
melatih kepeduliaan. Motivasi Rasulullah saw untuk menumbuhkan kepedulian
terutama di bulan Ramadhan ini dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Anas
bin Malik ra: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan”.
(HR. Tirmidzi). Kepedulian itu juga bisa ditumbuhkan dengan latihan memberi
makan kepada orang yang berbuka puasa. Betapa ganjaran yang Allah SWT sediakan
begitu besar sebagai stimulus agar Muslim tidak meninggalkan salah satu sarana
pendidikan kepedulian terhadap sesama. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari
Rasulullah saw, beliau bersabda: “Siapa
yang memberi buka terhadap orang yang berpuasa, baginya pahala orang yang
berpuasa, tidak dikurangi sedikitpun”. (HR. At-Tabrani).
Ramadhan
momentum kepedulian, tak terkecuali Ramadhan 1434 H ini. Sebagian saudara
Muslim di belahan penjuru bumi masih terus membutuhkan kepedulian saudara
sesama Muslim.
Di Tanah Air,
di Bener Meriah Aceh, ratusan jumlah pengungsi yang harus menjalani Ramadhan di
kamp-kamp pengungsian. Di Mesir, sekitar delapan jutaan Muslim tumpah ruah
melakukan aksi damai, terus berjuang membela hak mereka, melawan kesewenangan
dan menjunjungtinggi keadilan. Di Suriah perang masih terus bergejolak,
diselimuti tembakan peluru dan dentuman bom. Bisa dibayangkan bagaimana saudara
Muslim di sana menjalankan puasa, tarawih, tilawah Al-Qur’an dalam kondisi
tersebut; mencekam dan memprihatinkan. Kondisi itu menggelitik rasa kepedualian
saudara mereka yang dibuktikan dalam bentuk amal nyata. Dan momentum kepedulian
Ramadhan 1434 membuka lebar-lebar ganjaran dan keutamaan dari Allah SWT.
Kepedulian bisa dalam bentuk doa. Rasulullah saw
menjelaskan keutamaan berdoa untuk saudara Muslim dalam hadits yang
diriwayatkan Abu Darda’ ra: "Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam
keadaan zahril gaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di
atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali
orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata “dan
bagimu seperti itu juga”. (HR. Muslim).
Dengan mendoakan saudara
Muslim, maka Malaikat akan memohon kebaikan bagi yang mendoakan tersebut; yang
mendoakan akan didoakan Malaikat. Jadi diantara keutamaan berdoa untuk sesama
Muslim adalah mendapat permohonan dari Malaikat, dan permohonan Malaikat akan
diterima Allah SWT. Ini juga bisa menjadi diantara “siasat” terpenuhinya
kebutuhan. Sebagaimana “siasat” agar didoakan Malaikat juga bisa dilakukan
dengan bentuk kepedulian lain yaitu berinfak. Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra,
Rasulullah saw bersabda: "Setiap kali datang pagi hari yang menerpa
para hamba ada dua Malaikat yang turun ke bumi seraya berdoa “Wahai Tuhanku
berikanlah ganti kepada orang yang berinfak dan turunkanlah
kerugian
kepada orang yang menghalangi diri dari berinfak”. (HR. Bukhari).
Wallahu
a’lam.
Ditulis Oleh : Ustadz Ahmad Yani Lc.,MA.
.jpg)